Ahlan Wa Sahlan

‘Janganlah kamu menjadi orang yang tidak punyai sikap. Bila orang melakukan kebaikan maka aku pun melakukannya. Namun bila orang melakukan keburukan maka aku pun ikut melakukannya juga. Akan tetapi jadilah orang yang punya sikap dan keberanian. Jika orang melakukan kebaikan maka aku melakukannya. Namun jika orang melakukan keburukan maka aku tinggalkan sikap buruk mereka’. (HR. Tirmidzi)

Sabtu, 23 Agustus 2008

Peran Pemuda Muslim


PERAN PEMUDA ISLAM

mabiters_chaerul@yahoo.com

“Gunakanlah lima kesempatan sebelum datangnya yang lima (uzur), yakni masa mudamu sebelum datang tuamu, masa sehatmu sebelum datang sakitmu, masa kayamu sebelum datang miskinmu, masa hidupmu sebelum datang matimu, waktu luangmu sebelum datang kesibukanmu.” (Hadist dari Ibnu Abbas RA Riwayat Al Hakim).


Kecenderungan hidup santai adalah satu bentuk aktivitas pemuda, oleh karena itu, Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Ada dua nikmat di mana manusia banyak tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan kesempatan.” (HR. Bukhari).


Pemuda dengan tenaga yang masih segar ditambah semangat yang menyala adalah beruntung jika potensinya itu digunakan untuk mengabdi kapada Allah SWT : “… Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)


“Tujuh orang yang akan dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari yang tidak ada perlindungan selain perlindungannya … (satu di antaranya ialah) pemuda yang sejak kecil selalu beribadah kepada Allah.” (HR. Syaikhani)


Dalam usia yang sangat muda, gemblengan Rasulullah saw telah mampu memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap Islam ; Umar bin Khattab 27 tahun, Zaid bin Haritsah 20 tahun, Sa’ad bin Abi Waqash 17 tahun, bahkan Ali Bin Abi Thalib 8 tahun. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah …” (QS. Ali Imran : 110)


Sabda Rasulullah : “Perjuangan Aku didukung oleh pemuda, oleh sebab itu wasiat yang baik untuk mereka.”

Menurut Hasan Al-Banna, perbaikan suatu umat tidak akan terwujud kecuali dengan perbaikan individu, yang dalam hal ini adalah pemuda. Perbaikan individu (pemuda) tidak akan sukses kecuali dengan perbaikan jiwa. Perbaikan jiwa tidak akan berhasil kecuali dengan pendidikan dan pembinaan. Yang dimaksud dengan pembinaan adalah membangun dan mengisi
akal dengan ilmu yang berguna, mengarahkan hati lewat do’a, serta memompa dan menggiatkan jiwa lewat instropeksi diri.

Dr. Syakir Ali Salim AD berpendapat, pemuda Islam merupakan tumpuan umat, penerus dan penyempurna misi risalah Ilahiah. Perbaikan pemuda berarti adalah perbaikan umat. Oleh karena itu, eksistensinya sangat menentukan di dalam masyarakat.

Beberapa ulama menggolongkan peranan pemuda Islam seperti di bawah ini :

1. Pemuda sebagai Generasi Penerus

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka.” (QS. Ath-Thur : 21)


2. Pemuda sebagai Generasi Pengganti

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintainya … (QS. Al-Maidah : 54)


3. Pemuda Sebagai Generasi Pembaharu (Reformer)

“Ingatlah ketika ia (Ibrahim-pen) berkata kepada bapaknya : ‘wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong sedikitpun’.” (QS. Maryam : 42)


Perbedaan jarak dan waktu bukan alasan bagi kita untuk menjadi generasi yang lemah. Contoh saja Yahya Ayyash, Imad Aqil, Izzudin Al Qasam, dan pemuda-pemuda Palestina lainnya, berkat ketangguhan, kesungguhan dan kedekatannya dengan Allah menjadikan mereka seorang mujahid muda Begitu juga dengan pemuda lainnya di berbagai tempat dan zaman.

1. Pemuda sebagai Generasi Harapan Islam

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan dan memuliakan para pemuda, al-Qur’an menceritakan tentang potret pemuda ashaabul kahfi sebagai kelompok pemuda yang beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan mayoritas kaumnya yang menyimpang dari agama Allah SWT, sehingga Allah SWT menyelamatkan para pemuda tersebut dengan menidurkan mereka selama 309 tahun (QS 18/).

Kisah pemuda ashaabul ukhdud dalam al-Qur’an juga menceritakan tentang pemuda yang tegar dalam keimanannya kepada Allah SWT sehingga menyebabkan banyak masyarakatnya yang beriman dan membuat murka penguasa sehingga ratusan orang dibinasakan dengan diceburkan ke dalam parit berisi api yang bergejolak (sabab nuzul QS ). Dan masih banyak lagi contoh-contoh kisah para pemuda lainnya, diantaranya bahwa mayoritas dari assabiquunal awwaluun (orang-orang yang pertama kali beriman kepada Rasulullah SAW) adalah para pemuda (Abubakar ra masuk Islam pada usia 32 tahun, Umar ra 35 th, Ali ra 9 th, Utsman ra 30 th, dst).

Sifat-sifat yang menyebabkan para pemuda tersebut dicintai Allah SWT dan mendapatkan derajat yang tinggi sehingga kisahnya diabadikan dalam al-Qur’an dan dibaca oleh jutaan manusia dari masa ke masa, adalah sebagai berikut :

  1. Karena mereka selalu menyeru pada al-haq (QS 7/181)
  2. Mereka mencintai Allah SWT, maka Allah SWT mencintai mereka (QS 5/54)
  3. Mereka saling melindungi, menegakkan shalat (QS 9/71) tidak sebagaimana para pemuda yang menjadi musuh Allah SWT (QS 9/67)
  4. Mereka adalah para pemuda yang memenuhi janjinya kepada Allah SWT (QS 13/20)
  5. Mereka tidak ragu-ragu dalam berkorban diri dan harta mereka untuk kepentingan Islam (QS 49/15)

2. Pemuda sebagai Generasi Yang Memahami Kondisi Realitas Ummat

Jika kita menyaksikan kondisi mayoritas ummat Islam saat ini, maka terlihat bahwa sebagian besar ummat berada pada keadaan yang sangat memprihatinkan, mereka bagaikan buih terbawa banjir, tidak memiliki bobot dan tidak memiliki nilai. Jika dilakukan analisis secara mendalam dari sudut pandang agama, maka akan terlihat bahwa realitas ummat yang demikian disebabkan oleh hal-hal sbb:

· Penyakit ummat Islam saat ini (baik di Indonesia maupun di berbagai negara Islam) berpangkal pada sikap infirodiyyah (individualisme). Maksudnya adalah bahwa mayoritas ummat Islam saat ini bekerja sendiri-sendiri dan sibuk dengan masalahnya masing-masing tanpa berusaha untuk menggalang persatuan dan membuat suatu bargaining position demi kepentingan ummat. Para ulama dan muballigh sibuk bertabligh, para pengusaha muslim sibuk dengan usahanya dan para pejabatnya sibuk mempertahankan jabatannya, tidak ada koordinasi dan spesialisasi untuk bekerja sesuai dengan bidangnya kemudian hasilnya dimusyawarahkan untuk kepentingan bersama. Demikian pula di tingkat ORMAS dan ORPOL, masing-masing bekerja sendiri tidak ada kerjasama satu dengan lainnya. Hal inilah yang menyebabkan jurang pemisah antara masing-masing kelompok semakin besar.

Secara kejiwaan beberapa penyakit yang memperparah kondisi ummat Islam saat ini diantaranya adalah:

1. Emosional, artinya bahwa ikatan keislaman mayoritas ummat saat ini baru pada ikatan emosional saja, belum disertai dengan kefahaman yang mendalam akan ajaran agamanya. Sehingga disiplin untuk bekerja, semangat untuk berdakwah, gairah berinfak, dsb baru pada taraf emosional, bersifat reaktif dan sesaat saja (QS 22/11).

2. Orientasi kultus. Dalam pelaksanaan ibadah ritual, menjalankan pola hidup sampai dengan mensikapi berbagai peristiwa kontemporer, mayoritas masyarakat muslim tidak berpegang kepada dasar (dhawabith) kaidah-kaidah Islam yang jelas, karena pengetahuan keislaman yang pas-pasan, sehingga lebih memandang kepada pendapat berbagai tokoh yang dikultuskan. Celakanya para tokoh tersebut kebanyakan dikultuskan oleh berbagai lembaga yang tidak memiliki kompetensi sama sekali dalam bidang agama, seperti media massa, sehingga bermunculanlah para ulama selebriti yang berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan.

3. Sok pintar. Sifat kejiwaan lain yang menonjol pada mayoritas kaum muslimin saat ini adalah merasa sok pintar dalam hal agama. Jika dalam bidang kedokteran misalnya, mereka sangat menghargai spesialisasi profesi, sehingga yang memiliki otoritas untuk berbicara masalah penyakit adalah dokter, demikian seterusnya kaidah ini berlaku untuk bidang-bidang lainnya, kecuali bidang agama. Dalam bidang agama, dengan berbekal pengetahuan Islam yang ala kadarnya setiap orang sudah merasa cukup dan merasa tidak perlu belajar lagi untuk berani berbicara, berpendirian, bahkan berfatwa. Seolah-olah agama tidak memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang perlu dipelajari dan dikuasai sehingga seorang layak berbicara dengan mengatasnamakan Islam.

4. Meremehkan yang lain. Sifat lain yang muncul sebagai kelanjutan dari rasa sok pintar diatas adalah meremehkan pendapat orang lain. Dengan ringannya seorang yang baru belajar agama di sebuah universitas di Barat berani menyatakan bahwa jilbab adalah sekedar simbol saja bukan suatu kewajiban syar’i, yang dengan “fatwa-prematurnya” ini ia telah berani menafsirkan tanpa kaidah atas ayat al-Qur’an, menta’wil secara bathil hadits-hadits shahih serta membuang sirah nabawiyyah (perjalanan kehidupan Nabi SAW dan para sahabatnya) dan ijma’ (kesepakatan) fatwa para ulama sedunia, baik salaf (terdahulu) maupun khalaf (kontemporer).

5. Pemuda sebagai Generasi yang Bekerja dan Aktif Berdakwah

Islam memandang posisi pemuda di masyarakat bukan menjadi kelompok pengekor yang sekedar berfoya-foya, membuang-buang waktu dengan aktifitas-aktivitas yang bersifat hura-hura dan tidak ada manfaatnya. Melainkan Islam menaruh harapan yang besar kepada para pemuda untuk menjadi pelopor dan motor penggerak dakwah Islam. Pemuda adalah kelompok masyarakat yang memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya, diantaranya adalah bahwa mereka relatif masih bersih dari pencemaran (baik aqidah maupun pemikiran), mereka memiliki semangat yang kuat dan kemampuan mobilitas yang tinggi.

Para musuh Islam sangat menyadari akan hal tersebut, sehingga mereka berusaha sekuat tenaga untuk mematikan potensi yang besar tersebut dari awalnya dan menghancurkan para pemuda dengan berbagai kegiatan yang laghwun (bersifat santai dan melalaikan), dan bahkan destruktif.

Pemuda yang baik oleh karenanya adalah pemuda yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Mereka beramal/bekerja dengan didasari dengan keimanan/aqidah yang benar

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’” (QS Haa Miim [41]: 33)

2. Mereka selalu bekerja membangun masyarakat

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS Al Kahfi [18]: 7)

3. Dan mereka memahami bahwa orang yang baik adalah orang yang paling bermanfaat untuk ummat dan masyarakatnya

“Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS At Taubah [9]: 105).

6. Pemuda sebagai Generasi yang Menjadi Potret Islam

Para pemuda hendaknya menyadari bahwa mereka haruslah menjadi kelompok yang mampu mempresentasikan nilai-nilai Islam secara utuh bagi masyarakat, yaitu:

1. Mereka menjadi generasi yang hidup qalbunya karena senantiasa dekat dengan al-Qur’an, dan tenang dengan dzikrullah (QS Ar Ra’d [13]:28), bukan generasi yang berhati batu (QS Al Hadid[57]: 16) akibat jauh dari nilai-nilai Islam, ataupun generasi mayat (QS Al An’am[6]: 122) yang tidak bermanfaat tetapi menebar bau busuk kemana-mana.

2. Dalam menghadapi kesulitan dan tantangan, maka para pemuda harus sabar dan terus berjuang menegakkan Islam, hendaklah mereka berprinsip bahwa jika cintanya kepada Allah SWT benar, semua masalah akan terasa gampang.

3. Dalam perjuangan, jika yang menjadi ukurannya adalah keridhoan manusia maka akan terasa berat, tetapi jika ukurannya keridhoan Allah SWT maka apalah artinya dunia ini (QS An Nahl[16]: 96).

Walaahua’lam Bisawaf

Rabu, 13 Agustus 2008

Sesatnya Khawarij

SESATNYA KHAWARIJ

Dalam sejarah perkembangan Islam sejak dahulu kala telah terjadi perpecahan yang merupakan satu perwujudan dari sabda Rasulullah :

Akan terpecah umat ini menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu,lalu ditanyakan:siapakah mereka wahai Rasulullah ? beliau jawab: mereka adalah jama`ah (HSR At Tirmidzy) dan juga satu bukti akan kebenaran risalah kenabian Rasulullah.

Khawarij merupakan satu kelompok yang besar dari kelompok-kelompok sempalan yang menyimpang dari Islam dalam permasalahan aqidah dan mereka tergambarkan sebagai satu gerakan revolusi berdarah dalam sejarah Islam yang cukup banyak menyibukkan negeri-negeri Islam dalam tempo waktu yang lama untuk memadamkannya, kemudian merekapun sempat berhasil menebar kekuasaan politik mereka pada wilayah-wilayah yang luas dari negeri-negeri Islam di timur dan barat, khususnya di Omaan, Hadromaut, Zanzibar (Tanzania) dan sekitarnya dari wilayah Afrika dan Maghrib Arab (Maroko, Aljazair, Tunis dan Libia) dan sampai sekarang mereka masih memiliki tsaqafah yang terwakii oleh sekte Al Ibadhiyah yang tersebar di wilayah-wilayah tersebut, sampai masih memiliki satu kesultanan yaitu kesultanan Omaan.

Kemudian tidak diragukan kembali, bahwa sebagian pemikiran dan aqidah mereka -Khususnya Al Azaariqah yang berhubungan dengan pengkafiran pelaku kemaksiatan- sampai saat ini masih berkembang dan tampak jelas serta mereka masih memiliki pengikut yang menampakkan kekerasan dan kefanatikan mereka,sehingga membuat pembahasan tentang mereka ini menjadi penting dalam rangka menjelaskan pemikiran-pemikiran mereka yang menyimpang kepada umat dan menmyelamatkan mereka dari perangkap dan kesesatan kelompok ini, akan tetapi penting untuk diketahui bahwa hampir-hampir hilang semua referensi dari mereka kecuali referensi sekte Al Ibadhiyah

Sejarah Munculnya

Pasca pembunuhan Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dibai’at sebagai khilafah. Pengangkatan Ali diwarnai kemelut politik karena penolakan Muawiyah bin Abi Sufyan atas eksistensi kekhalifahan Ali. Kemelut inilah yang melahirkan perang Siffin; perang antara pengikut Ali dan Muawiyah. Perang ini oleh sementara kalangan sejarawan disebut sebagai al-fitnah al-kubra (kekacauan besar) dan berpengaruh besar dalam mewarnai perjalanan panjang sejarah politik umat Islam dari generasi ke generasi sesudahnya.

Secara kronologis, terjadinya perang Siffin antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan disebabkan tuntutan Muawiyah kepada Ali untuk mengadili para pemberontak yang melakukan pembunuhan terhadap Usman bin Affan. Sebenarnya Ali bukannya tidak bersedia memenuhi tuntutan Muawiyah, tetapi Ali ingin lebih dahulu menstabilkan situasi yang masih kacau akibat pemberontakan itu, dan Ali juga menginginkan pengakuan dan bai’at dari Muawiyah. Namun Muawiyah menentang dan menolaknya.

Dalam perang ini, posisi pasukan Ali berada di atas angin. Menyadari keadaan yang tidak menguntungkan, atas imbauan Amr bin ‘Ash, Muawiyah mengajukan opsi perdamaian (arbitrase/tahkim) dengan meletakkan mushhaf al-Quran di ujung tombak. Ali menerima tawaran perdamaian yang diajukan oleh Muawiyah.

Sementara itu, dalam tubuh Ali terdapat sekelompok orang yang tidak menyetujui arbitrase yang dilakukan oleh Ali dan Muawiyah. Kelompok ini kemudian dikenal dengan nama Khawarij. Secara bahasa Khawarij berasal dari suku kata Arab kharaja yang artinya keluar atau hengkang. Khawarij adalah bentuk jamak (plural) dari kata kharij; orang yang keluar atau hengkang.

Dalam buku Al-Milal wan-Nihal, Asy-Syahrastani mendefinisikan kaum khawarij sebagai sebuah aliran atau golongan atau sekelompok orang yang pada mulanya setia dan mendukung kepada khalifah Ali bin Abi Thalib, kemudian keluar dan tidak mendukung Ali bin Abi Thalib lalu bergabung dengan kelompok lain kerena tidak setuju dengan kebijakan pemerintahan khalifah Ali bin Abu Thalib. Kelompok Khawarij kebanyakan berasal dari suku Arab Badui yang terkenal keras dan suka memberontak.

Kelompok Khawarij menolak arbitrase karena, menurut mereka, orang yang melakukan arbitrase berarti telah ber-tahkim kepada manusia, bukan kepada Allah. Dengan mensitir ayat


“Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah, maka ia termasuk golongan kafir” (QS al-Maidah [5]: 44),

mereka lantas mengeluarkan semoboyan “tidak ada hukum selain hukum Allah”.

Dengan mengambil legitimasi ayat tersebut, mereka mengafirkan lawan-lawan politiknya. Kemudian mereka mengirimkan eksekutor untuk membunuh lawan-lawan pilitiknya yaitu Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan, Abu Musa al-Asy’ari, dan Amr bin Ash, tetapi mereka hanya berhasil membunuh Ali yang dilakukan oleh Abd al-Rahman bin Muljam.

Khawarij juga berpandangan bahwa orang yang melakukan dosa besar telah kafir. Atas dasar inilah mereka kemudian dengan gampang menghalalkan darah orang di luar kelompok mereka. Tidak hanya itu saja, kaum Khawarij juga mempraktikkan isti’rdh, semacam penyelidikan atas keyakinan kaum non-khawarij.

Orang-orang yang tidak lolos dari isti’rdh ini lantas dipandang kafir dan darahnya dihalalkan. Penumpahan darah atas orang-orang seperti ini pun banyak terjadi, tak terkecuali terhadap perempuan dan anak-anak. Menurut Khawarij anak-anak tersebut statusnya sama dengan orangtua mereka.

Melakukan praktik takfir (mengafirkan orang lain) adalah ciri khas kelompok Khawarij. Tanpa ragu-ragu mereka menjatuhkan hukuman mati terhadap orang-orang yang mereka tuduh kafir. Kaum Khawarij benar-benar telah meremehkan kesucian dan kehormatan jiwa manusia. Padahal Allah memuliakan seluruh jiwa manusia(QS al-Isra’ [17]: 70).

Sebab-sebab munculnya khawarij:

Di antara faktor-faktor dan sebab-sebab penting kemunculan kelompok khawarij adalah:

  1. Perseteruan sekitar masalah khilafah. kemungkinan ini merupakan sebab yang paling kuat dalam kemunculan Khawarij dan pemberontakan mereka, karena mereka memiliki pandangan yang khusus dan keras dalam hal ini,sehingga menganggap penguasa yang ada pada waktu itu tidak berhak menjadi kholifah bagi kaum muslimin ditambah juga dengan keadaan politik yang tidak menentu yang membuat mereka berani untuk memberontak terhadap para penguasa dan ketidak sukaan mereka terhadap orang-orang Quraisy,apalagi mereka menganggap bahwa perselisihan antara Ali dengan Muawiyah adalah perselisihan memperebutkan kursi kekhilafahan
  2. Permasalahan tahkim. inipun menjadi sebab yang kuat dari pemberontakan dan kemunculan Khawaarij, karena mereka mengkafirkan Ali lantaran keridhoan beliau terhadap perkara ini
  3. Kedzaliman para penguasa dan tersebarnya kemungkaran yang banyak dikalangan manusia. Demikianlah slogan dan propaganda mereka dalam khutbah-khutbah dan tulisan-tulisan mereka untuk mengambil simpati umat islam dengan mengatakan bahwa para penguasa telah berbuat kedzoliman dan kemaksiatan telah menyebar dan merebak pada masyakat yang ada sehingga perlu mencegahnya,akan tetapi pada hakikatnya apa yang mereka lakukan dengan memberontak terhadap penguasa itu lebih besar dari pada kemungkaran dan kedzoliman yang ada,karena mereka menganggap bahwa membunuh orang yang menyelisihi mereka merupakan satu ketaatan yang bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah dan menganggap semua penguasa mulai dari Ali kemudian Bani Umayah dan Abasiyah adalah dzolim tanpa klarifikasi dan kehati-hatian, padahal menegakkan keadilan dan mencegah kemungkaran bisa dilakukan dengan cara yang lain tanpa harus mengorbankan dan menumpahkan darah-darah orang yang menyelisihi mereka baik penguasa atau rakyat.
  4. Fanatisme kesukuan.ini merupakan satu dari sebab-sebab munculnya Khawarij. Fanatisme kesukuan ini telah hilang pada zaman Rasulullah dan Abu Bakar serta Umar, kemudian muncul kembali pada zaman pemerintahan Utsman dan yang setelahnya. Pada zaman sebelum Islam telah terjadi permusuhan antara suku bangsa Rabi`ah-dan kebanyakan Khawarij dari mereka- dengan Mudhar-diantara mereka adalah Quraisy-sangat kuat. Dan pada masa Utsman fanatisme tersebut mendapat kesempatan untuk berkembang karena terjadi persaingan dalam memperebutkan jabatan-jabatan penting dalam kekhilafahan sehingga Utsman di tuduh mengadakan gerakan nepotisme dengan mengangkat banyak dari keluarganya untuk menjabat jabatan-jabatan strategis di pemerintahannya,dan inilah yang dijadikan hujjah oleh mereka untuk mengadakan kudeta terhadapnya.sehingga berkata Jabalah bin Amr: Demi Allah sungguh aku akan hilangkan kumpulan ini dari lehermu atau kamu tinggalkan pendamping-pendampingmu ini, berkata Utsman: Pendamping-pendamping yang mana? Maka demi Allah aku telah menyeleksinya. Berkata Jabalah :Marwan, Muuawiyah, Abdullah bin Amir bin Kuraiz dan Abdullah bin Saad telah engkau seleksi!? Sebenarnya orang yang menuduh dia telah mengangkat ahli baitnya untuk jabatan-jabatan tersebut karena kekeluargaan dan fanatis kesukuan adalah seorang pendusta yang ingin mencela dan melecehkan beliau,karena semua yang telah disebutkan Jabalah tersebut merupakan orang-orang yang telah terbukti lebih baik dan lebih pantas darinya dan mereka termasuk para pahlawan Islam yang terkenal,dan sejarah telah membuktikannya.Demikianlah hawa nafsu jika telah menguasai akal manusia.
  5. Faktor ekonomi,ini dapat dilihat dari kisah Dzul Khuwaishiroh bersama Rasulullah dan kudeta berdarahnya mereka terhadap Utsman, ketika mereka merampas dan merampok harta baitul-mal langsung setelah membunuh Utsman, demikian juga dendam mereka terhadap Ali dalam perang jamal, ketika Ali melarang mereka mengambil wanita dan anak-anak sebagai budak rampasan hasil perang sebagimana perkataan mereka terhadap Ali: Awal yang membuat kami dendam padamu adalah ketika kami berperang bersamamu di hari peperangan jamal, dan pasukan jamal kalah, engkau membolehkan kami mengambil apa yang kami temukan dari harta benda dan engkau mencegah kami dari mengambil wanita-wanita mereka dan anak-anak mereka.

Oleh karena itu faktor ekonomi pun berperan dalam membangkitkan revolusi mereka,akan tetapi dia bukanlah sebab satu-satunya sebagaimana yang telah dijelaskan diatas.

Semangat keagamaan.ini pun merupakan satu penggerak mereka untuk keluar memberontak dari penguasa yang absah.

Ajaran

Secara umum, ajaran-ajaran pokok golongan ini adalah:

  • Kaum muslimin yang melakukan dosa besar adalah kafir.
  • Kaum muslimin yang terlibat dalam perang Jamal, yakni perang antara Aisyah, Thalhah, dan Zubair melawan 'Ali ibn Abi Thalib dan pelaku arbitrase (termasuk yang menerima dan membenarkannya) dihukumi kafir.
  • Khalifah harus dipilih rakyat serta tidak harus dari keturunan Nabi Muhammad SAW dan tidak mesti keturunan Quraisy. Jadi, seorang muslim dari golongan manapun bisa menjadi kholifah asalkan mampu memimpin dengan benar.

Tokoh utama

Tokoh-tokoh utama Khawarij antara lain:

Sekte Perpecahan di Tubuh Khawarij

Golongan Khawarij yang mengalami kejayaan kurang lebih dua abad, akhirnya runtuh. Ikatan tali persatuan yang mereka bangun akhirnya pudar disebabkan perpecahan dahsyat yang menggerogoti tubuhnya. Akibatnya, Khawarij tinggal sebuah nama yang terukir dalam sejarah dan tertulis dalam buku. Ini sesuai dengan firman Allah lyang menyatakan bahwa kebatilan akan sirna, sehingga sirna pulalah setiap aliran yang menyalahi aturan Islam.

Kaum Khawarij pecah menjadi 20 golongan, di antaranya adalah:

  • Al-Azariqah, yaitu sempalan Khawarij yang dikomando Abu Rasyid Nafi’ bin al-Azraq, mereka keluar dari Bashrah bersama Nafi’ menuju al-Ahwaz. Golongan Azariqah adalah kelompok yang radikal, sebab orang yang tidak sepaham dengan mereka dibunuh.

  • An-Najadat al-Adzirabah, yaitu aliran sempalan Khawarij yang dikomando Najdah bin Amir al-Hanafi. Mereka keluar dari al-Yamamah bersama bala tentaranya bertujuan menemui al-Adzariqah. Najdah akhirnya terbunuh pada tahun 69 H.

  • Al-Baihasiyah, yaitu kelompok sempalan dari Khawarij yang dikomando Abu Baihah al-Haisam bin Jabir.

  • Al-Ajaridah, yaitu kelompok sempalan Khawarij yang bernaung di bawah kepemimpinan Abdul Karim bin Ajarid. Dalam perkembangannya terpecah menjadi beberapa kelompok kecil seperti Syu'aibiyyah, Hamziyyah, Hazimiyyah, Maimuniyyah, dll.

  • Al-Tsa’alibah, yaitu kelompok sempalan Khawarij yang bernaung di bawah kepempimpinan al-Tsa’alibah.

  • Al-Ibadliyah, yaitu kelompok sempalan Khawarij yang bernaung di bawah kepempimpinan Abdullah bin Ibadl dari kalangan Bani Murrah bin Ubaid bin Taim.

  • As-Shufriyah al-Ziyadiah, yaitu kelompok sempalan Khawarij yang bernaung di bawah payung Ziyad bin al-Ashfar dan lain-lain.

Ciri-ciri Dan Sifat-sifat Khowarij

Khowarij memiliki ciri-ciri dan sifat-sifat yang menonjol yang telah dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadits-hadits yang shohih, dan hal itu sangat penting dalam mengetahui siapa mereka,dan diantara faidah mengetahui hal ini:

1. Dengan mengetahui sifat-sifat ini akan tampaklah kepada kita berlebih-lebihannya mereka dalam beragama

2. Menimbulkan keyakinan bahwa mereka akan selalu ada sampai hari kiamat, karena Rasulullah telah menjelaskannya dan ini penting bagi kita untuk menghindari dari mereka dan mengingatkan umat akan bahaya mereka serta tidak terjatuh dalam hal-hal tersebut.

Diantara sifat-sifat tersebut adalah:

1. suka mencela dan menganggap sesat para pemimpin.

Sifat ini tampak jelas pada Khowaarij, mereka selalu mencela para pemimpin-pemimpin dan menganggap mereka sesat serta menghukumi mereka sebagai orang-orang yang sudah keluar dari keadilan dan kebenaran, dan ini dapat dilihat dari sikap Dzul Khuwaishiroh terhadap Rasulullah.

2. Berprasangka buruk, ini adalah sifat Khawarij yang tampak dalam cara menghukum yang dilakukan oleh Dzul Khuwaishiroh. Berkata Syiekhul Islam : Pada tahun peperangan Hunain, beliau membagi Ghonimah (rampasan perang) Hunain kepada orang-orang yang hatinya lemah (Mualafah Qulubuhum) dari penduduk Nejd dan bekas tawanan Quraisy seperti `Uyainah bin Hafsh,dan beliau tidak memberi kepada kaum Muhajirin dan Anshor sedikitpun.

Maksud beliau memberikan kepada mereka adalah untuk mengikat hati mereka dengan Islam, karena keterkaitan hati mereka dengannya merupakan mashlahat umum bagi kaum muslimin, sedangkan yang tidak beliau beri adalah karena mereka lebih baik dimata beliau dan mereka adalah wali-wali Allah yang bertaqwa dan seutama-utamanya hamba Allah yang sholih setelah para Nabi dan Rasul-rasul-Nya.Jika pemberian itu tidak dipertimbangkan untuk mashlahat umum, maka Nabi tidak akan memberikannya pada orang-orang kaya para pemimpin yang ditaati dalam perundang-undangan dan akan memberikannya kepada Muhajirin dan Anshor yang lebih membutuhkan dan lebih utama. Oleh karena itu orang-orang Khawarij mencela Nabi dan dikatakan kepada beliau oleh pelopornya:Wahai Muhammad berbuatlah adil, sesungguhnya engkau tidak berlaku adil. Dan perkataannya: `sesungguhnya pembagian ini tidak dimaksudkan untuk mendapat wajah Allah ....

Mereka meskipun banyak shaum (puasa), sholat dan membaca Alquran,tetapi keluar dari As Sunnah dan Jamaah, Memang mereka dikenal sebagai kaum yang suka beribadah, wara dan zuhud akan tetapi tanpa disertai ilmu, sehingga mereka memutuskan bahwa pemberian itu semestinya tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang berhajat, bukan kepada para pemimpin yang ditaati dan orang-orang kaya itu,jika didorong untuk mencari keridhoan selain Allah-menurut prasangka mereka. Inilah kebodohan mereka, karena sesungguhnya pemberian itu menurut kadar mashlahat agama Allah. Jika pemberian itu akan semakin mengundang ketaatan kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi agama-Nya, maka pemberian itu lebih utama. Pemberian kepada orang yang membutuhkannya untuk menegakkan agama, menghinakan musuh-musuhnya, memenangkan dan meninggikannya lebih agung daripada pemberian yang tidak demikian itu,walaupun yang kedua lebih membutuhkan(Lihat Majmu` Fatawa XXVIII/579-581 dengan sedikit diringkas)

3. Berlebihan dalam beribadah sebagaimana sabda Rasulullah :

karena dia mempunyai teman-teman yang salah seorang di antara kalian akan diremehkan [merasa remah] shalatnya jika dibandingkan dengan shalat mereka, dan puasanya jika dibandingkan dengan puasa mereka.

Berkata Ibnu Hajar: Mereka (Khowarij) dikenal sebagai Qurra` Penghapal Alquran), karena besarnya kesungguhan mereka dalam tilawah dan ibadah, akan tetapi mereka suka menta`wil Alquran dengan ta`wil yang menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Mereka lebih mendahului pendapat-pendapat mereka, berlebih-lebihan dalam zuhud dan khusyu` dan lain sebagainya.

4. Keras terhadap kaum muslimin, sebagimana sabda Rasulullah : Sesungguhnya akan keluar dari keturunan laki-laki ini, suatu kaum yang membaca Alquran tidak melebihi kerongkongan mereka. membunuh pemeluk Islam dan membiarkan penyembah berhala. Terlepas dari Islam seperti terlepasnya anak panah dari busurnya. Seandainya aku menemui mereka, sunggguh akan aku bunuh mereka seperti dibunuhnya kaum `Aad

Sejarah telah mencatat dalam lembaran-lembaran hitamnya tentang Khawarij berkenaan dengan cara mereka ini. Diantara kejadian yang mengerikan adalah kisah Abdullah bin Khobaab: Dalam perjalanannya, orang-orang Khaawarij bertemu dengan Abdullah bin Khabab.mereka bertanya kepadanya:Apakah engkau pernah mendengar dari bapakmu suatu hadits yang dikatakan dari Rasulullah, kalau ada, ceritakanlah kepada kami tentangnya! lalu beliau berkata:ya, aku telah mendengar dari bapakku, bahwa Rasulullah menyebutkan tentang fitnah.Yang duduk ketika itu lebih baik dari pada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari, jika engkau menemuinya, hendaklah engkau menjadi hamba Allah yang terbunuh. mereka berkata: Apakah engkau mendengar hadits itu dari bapakmu dan memberitakannya dari Rasulullah?.beliau menjawab:ya, setelah mendengar jawaban beliau tersebut, mereka mengajak ke hulu sungai, lalu memenggal lehernya, maka mengalirlah darahnya seolah-olah seperti tali terompah.

Lalu mereka membelah perut istrinya yang sedang hamil dan mengeluarkan isinya. Kemudian mereka datang kesebuah pohon kurma yang lebat buahnya di Nahrawan. Tiba-tiba jatuhlah buah pohon korma tersebut dan diambil salah seorang diantara merekalalu dia masukkan kedalam mulutnya, Berkatalah salah seorang dari mereka,engkau mengambil tanpa dasar hukum, dan tanpa harga (tidak membelinya dengan sah).Akhrnya ia pun membuangnya kembali dari mulutnya salah seorang dari mereka yang lain mencabut pedangnya lalu mengayunkannya. Kemudian mereka melewati babi milik seorang ahlu dzimmah, lalu ia penggal lehernya kemudian diseret moncongnya. Mereka berkata:ini adalah kerusakan dimuka bumi.setelah mereka bertemu dengan pemilik babi itu, maka mereka mengganti harganya(Talbis Iblis hal.93-94)

5. Sedikit dan rendah pemahaman mereka terhadap fiqh, ini merupakan kesalahan mereka yang sangat besar yang menyebabkan mereka menyempal dari ajaran yang benar.

6. Muda usia dan berakal rendah, sebagaimana sabda Rasulullah :

Akan keluar padda akhir zaman suatu kaum, umumnya masih muda, rusak akalnya, mereka mengatakan dari sebaik-baik perkataan makhluk. Membaca Alquran tidak melebihi kerongkongannya. Terlepas dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya (H.R. Bukhari VI/618 no. 3611; Muslim II/746 no 1066)

7. Fasih dalam berbahasa. Telah terkenal kefasihan mereka dalam berbicara dan berbahasa, sehingga berkata Ibnu Ziyad: Sungguh ucapan mereka lebih cepat sampai ke hati-hati manusia dari pada rambatan api ke batang kayu

Daftar Pustaka

  • Al Quran dan Hadist
  • Drs. Muhammad Sufyan Raji Abdullah, Lc., Mengenal Aliran-Aliran Islam dan Ciri-Ciri Ajarannya. LPPI.
  • Al-Jauhani, Al-Mausu’ah Al-Muyassarah, WAMY.
  • Ibnul Jauzi Al-Baghdadi, Talbis Iblis.
  • Hamid, Syamsul Rijal. 2002. Buku Pintar Agama Islam: Edisi Senior. Bogor: Penebar Salam.

Yang Blm Ada:

Penjelasan Tentang Tokoh Pendiri

Wilayah Penyebarannya

Pokok Ajaran

Kesimpulan

Senin, 11 Agustus 2008



Perang Badr
(Tafsir Surat Al Anfal: 5-14)

“ Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal Sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).”

Dalam surat al Anfal ayat 5-6 menggambarkan keberatan sebagian sahabat untuk berjihad melawan pasukan Quraisy yang sangat banyak jumlahnya. Di dalam siroh dijelaskan bahwasanya terjadi perbedaan pendapat diantara para sahabat, disatu sisi ada sekelompok sahabat yang ragu-ragu, takut dan yang sebagaimana yang digambarkan oleh Allah, seakan-akan mereka digiring ke dalam kematian. Dan sekelompok sahabat yang lain yang selalu siap mengikuti Rosululloh terhadap apa saja yang akan dilakukan. Akhirnya dengan syuro yang selalu dikedepankan para sahabat akhirnya sepakat untuk terus maju berjuang mengiringi langkah Rosul. Pada intinya ayat Allah ini mengajarkan nilai-nilai tarbiyah kesabaran, ujian ketaatan kepada Qiyadah, dan gambaran ruh jamaah yang sehat, ruh yang dibangun diatas dasar keimanan dan rasa saling menghargai, serta rasa mencintai antar sesame sahabat.

“ Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah[597] yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.”

Kejadian yang tidak disangka-sangka oleh para sahabat terjadi di depan mata mereka, maksud dan rencana mereka yang pada awalnya untuk mencegat pasukan Abu Sufyan, malah mempertemukan mereka dengan pasukan Abu Jahal yang pada saat itu sudah lebih bersiap untuk menghadapi pasukan kaum muslimin. Allah menghendaki demikian untuk mendidik kakum muslimin agar senantiasa bersiap siaga dalam berjuang di jalan Allah (al Haq), mengajarkan kaum muslimin untuk berjuang dahulu untuk mendapatkan sesuatu yang saat itu menjadi rencana atau tujuan awal mereka, yaitu mencegat pasukan Abu Sufyan yang membawa ghanimah dan Allah memberikan jalan yang lain. Inilah tarbuyah yang diberikan Allah bahwasanya manusia memiliki keterbatasan dalam menilai sesuatu. Berapa banyak manusia yang mengira bahwa mereka mampu memilih sesuatu yang lebih baik bagi dirinya, namun Allah memberikan pilihan lain yang terkadang harus ditebus dengan bahaya dan kesulitan. Dan barulah manusia sadar bahwa pilihan Alah adalah yang terbaik bagi setiap manusia yang dikehendakinya. .

“(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut" Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ayat ini menggambarkan suasana sebelum meletusnya ghazwah Badar al-Kubra. Pertempuran antara kaum muslimin dan musrikin di Badar adalah pertempuran yang sangat tidak seimbang dalam berbagai segi dan hal. Mulai dari drgi pasukan, peralataan (peralatan), dan kesiapan berperan. Namun di perang inilah Allah menunjukan kekuasaa dan keperkasaan-Nya, dimana kekuatan dan kemenangan bukan lagi ditentukan dari banyaknya jumlah pasukan dan persenjataan. dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs.Al Anfal :10). Di dalam perang Badar sendiri Rosululloh dan para sahabatnya mendapatkan an-Nasr dari Allah SWT.

Pada saat-saat yang seperti itu sudah sewajarnya jika manusia mengalami kekhawatiran yang disebabkan karena banyaknya musuh yang memerangi dan disertai merka memiliki persenjataan yang lengkap, namun yang saat itu tampak dari wajah Rosul dan para sahabatnya adalah rasa tawakal, berserah diri pada Allah SWT. Hal ini dikarenakan nilai-nilai aqidah yang sudah diajarkan oleh Rosululloh sudah menghujam di dalam dada mereka, dan mereka yakin bahwasanya pertolongan Allah pasti akan selalu menyertai mereka.

Nilai atau Hikmah yang dapat diambil dari firman Allah ayat 10 ini adalah memberikan kita pelajaran dan tarbiyah aqidah kepada para mujahidin, bahwa kemenangan yang mereka lihat adalah semata-mata dari Allah SWT Yang Maha uat dan Bijaksana. Dari ayat ini pula kita dapat mengambil nilai tawakal kepada Allah untuk selalu percaya kepada-Nya dalam berbagai keadaan yang diajarkan oleh Rosul dan sahabat-sahabatnya. Dan kemenangan itu datangnya dari Allah SWT.

“(ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang Telah beriman". kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. “

Pertolongan-pertolongan Allah kepada kaum muslimin di Badar dijelaskan di Qs. Al Anfal: 11-12. Bentuk-bentuk pertolongan yang diberikan Allah SWT di Badar berupa: timbulnya rasa kantuk, turunnya hujan, timbulnya rasa tenang, dan tumbuhnya rasa takut pada pihak musuh serta pertolongan Allah dalam bentuk peran malaikat yang membunuh orang-orang kafir.

Timbulnya rasa kantuk yang dialami oleh kaum muslimin adalah bentuk rahmat dan kasih sayang Allah. Rasa kentuk tersebut membuat kaum muslimin memiliki ketentraman dalam menghadapi musuh-musuh Allah, sebab setelah mereka terbangun dari tidur jiwa mereka merasakan adanya ketentraman setelah sebelumnya diliputi rasa kecemasan akibat banyaknya jumlah pasukan musuh dan lengkapnya persenjataan mereka. Pertolongan Allah dalam bentuk turunnya hujan merupakan pertolongan yang menjauhkan kaum muslimin dari najis yang melekat dalam diri kaum muslimin. Turunnya hujanpun merupakan pertolongan yang semakin meyakinkan teguhan mereka dalam berjuang di jalan Allah, dimana di dalam perjalanan syaithan selalu mengganggu kaum muslimin dengan bisikannya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: ketika Rosululloh SAW berjalan menuju Badar, terdengar berita bahwa orang-orang musyrik menguasai suatu tempat genangan air, sementara itu para sahabat dilanda kelelahan yang sangat. Disaat itu syaithan membisikan was-was dalam diri para sahabat. Maka kemudian Allah menurunkan kepada para mujahidin hujan yang deras. Para sahabat dapat minum dan bersuci serta terbabas dari bisikan syaithan. Pada saat itu pula Allah menurunkan 1000 malaikat. Jibril memimpin 500 pasukan dan Mikail 500 pasukan.


“(Ketentuan) yang demikian itu adalah Karena Sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), Maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka.”

Ayat 13 dalam surat Al Anfal memberikan penyejuk dan penguat hati orangorang yang beriman dalam menghadapi penentangan kaum kafir, dan di ayat ini Allah menanamkan agar rasa tsiqoh kepada pertolongan Allah semakin kuat dan menghujam. Setiap pergerakan yang dilakukan oleh orang muslimin merupakan dalam rangka mencari ridho Allah. Kekalahan dan rasa takut yang menimpa orang-orang kafir merupakan bukanlah suatu hal yang final, melainkan akan mereka jumpai kembali nanti di kehidupan yang lebih panjang dan abadi, yaitu azab neraka. Dan begitu juga sebaliknya orang-orang mukmin akan menerima balasan kebaikan atas perjuangan mereka menegakan Dien Allah di yang lebih tinggi nilainya, yakni surga Allah kelak.