Ahlan Wa Sahlan

‘Janganlah kamu menjadi orang yang tidak punyai sikap. Bila orang melakukan kebaikan maka aku pun melakukannya. Namun bila orang melakukan keburukan maka aku pun ikut melakukannya juga. Akan tetapi jadilah orang yang punya sikap dan keberanian. Jika orang melakukan kebaikan maka aku melakukannya. Namun jika orang melakukan keburukan maka aku tinggalkan sikap buruk mereka’. (HR. Tirmidzi)

Senin, 11 Agustus 2008



Perang Badr
(Tafsir Surat Al Anfal: 5-14)

“ Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal Sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).”

Dalam surat al Anfal ayat 5-6 menggambarkan keberatan sebagian sahabat untuk berjihad melawan pasukan Quraisy yang sangat banyak jumlahnya. Di dalam siroh dijelaskan bahwasanya terjadi perbedaan pendapat diantara para sahabat, disatu sisi ada sekelompok sahabat yang ragu-ragu, takut dan yang sebagaimana yang digambarkan oleh Allah, seakan-akan mereka digiring ke dalam kematian. Dan sekelompok sahabat yang lain yang selalu siap mengikuti Rosululloh terhadap apa saja yang akan dilakukan. Akhirnya dengan syuro yang selalu dikedepankan para sahabat akhirnya sepakat untuk terus maju berjuang mengiringi langkah Rosul. Pada intinya ayat Allah ini mengajarkan nilai-nilai tarbiyah kesabaran, ujian ketaatan kepada Qiyadah, dan gambaran ruh jamaah yang sehat, ruh yang dibangun diatas dasar keimanan dan rasa saling menghargai, serta rasa mencintai antar sesame sahabat.

“ Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah[597] yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.”

Kejadian yang tidak disangka-sangka oleh para sahabat terjadi di depan mata mereka, maksud dan rencana mereka yang pada awalnya untuk mencegat pasukan Abu Sufyan, malah mempertemukan mereka dengan pasukan Abu Jahal yang pada saat itu sudah lebih bersiap untuk menghadapi pasukan kaum muslimin. Allah menghendaki demikian untuk mendidik kakum muslimin agar senantiasa bersiap siaga dalam berjuang di jalan Allah (al Haq), mengajarkan kaum muslimin untuk berjuang dahulu untuk mendapatkan sesuatu yang saat itu menjadi rencana atau tujuan awal mereka, yaitu mencegat pasukan Abu Sufyan yang membawa ghanimah dan Allah memberikan jalan yang lain. Inilah tarbuyah yang diberikan Allah bahwasanya manusia memiliki keterbatasan dalam menilai sesuatu. Berapa banyak manusia yang mengira bahwa mereka mampu memilih sesuatu yang lebih baik bagi dirinya, namun Allah memberikan pilihan lain yang terkadang harus ditebus dengan bahaya dan kesulitan. Dan barulah manusia sadar bahwa pilihan Alah adalah yang terbaik bagi setiap manusia yang dikehendakinya. .

“(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut" Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ayat ini menggambarkan suasana sebelum meletusnya ghazwah Badar al-Kubra. Pertempuran antara kaum muslimin dan musrikin di Badar adalah pertempuran yang sangat tidak seimbang dalam berbagai segi dan hal. Mulai dari drgi pasukan, peralataan (peralatan), dan kesiapan berperan. Namun di perang inilah Allah menunjukan kekuasaa dan keperkasaan-Nya, dimana kekuatan dan kemenangan bukan lagi ditentukan dari banyaknya jumlah pasukan dan persenjataan. dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs.Al Anfal :10). Di dalam perang Badar sendiri Rosululloh dan para sahabatnya mendapatkan an-Nasr dari Allah SWT.

Pada saat-saat yang seperti itu sudah sewajarnya jika manusia mengalami kekhawatiran yang disebabkan karena banyaknya musuh yang memerangi dan disertai merka memiliki persenjataan yang lengkap, namun yang saat itu tampak dari wajah Rosul dan para sahabatnya adalah rasa tawakal, berserah diri pada Allah SWT. Hal ini dikarenakan nilai-nilai aqidah yang sudah diajarkan oleh Rosululloh sudah menghujam di dalam dada mereka, dan mereka yakin bahwasanya pertolongan Allah pasti akan selalu menyertai mereka.

Nilai atau Hikmah yang dapat diambil dari firman Allah ayat 10 ini adalah memberikan kita pelajaran dan tarbiyah aqidah kepada para mujahidin, bahwa kemenangan yang mereka lihat adalah semata-mata dari Allah SWT Yang Maha uat dan Bijaksana. Dari ayat ini pula kita dapat mengambil nilai tawakal kepada Allah untuk selalu percaya kepada-Nya dalam berbagai keadaan yang diajarkan oleh Rosul dan sahabat-sahabatnya. Dan kemenangan itu datangnya dari Allah SWT.

“(ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang Telah beriman". kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. “

Pertolongan-pertolongan Allah kepada kaum muslimin di Badar dijelaskan di Qs. Al Anfal: 11-12. Bentuk-bentuk pertolongan yang diberikan Allah SWT di Badar berupa: timbulnya rasa kantuk, turunnya hujan, timbulnya rasa tenang, dan tumbuhnya rasa takut pada pihak musuh serta pertolongan Allah dalam bentuk peran malaikat yang membunuh orang-orang kafir.

Timbulnya rasa kantuk yang dialami oleh kaum muslimin adalah bentuk rahmat dan kasih sayang Allah. Rasa kentuk tersebut membuat kaum muslimin memiliki ketentraman dalam menghadapi musuh-musuh Allah, sebab setelah mereka terbangun dari tidur jiwa mereka merasakan adanya ketentraman setelah sebelumnya diliputi rasa kecemasan akibat banyaknya jumlah pasukan musuh dan lengkapnya persenjataan mereka. Pertolongan Allah dalam bentuk turunnya hujan merupakan pertolongan yang menjauhkan kaum muslimin dari najis yang melekat dalam diri kaum muslimin. Turunnya hujanpun merupakan pertolongan yang semakin meyakinkan teguhan mereka dalam berjuang di jalan Allah, dimana di dalam perjalanan syaithan selalu mengganggu kaum muslimin dengan bisikannya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: ketika Rosululloh SAW berjalan menuju Badar, terdengar berita bahwa orang-orang musyrik menguasai suatu tempat genangan air, sementara itu para sahabat dilanda kelelahan yang sangat. Disaat itu syaithan membisikan was-was dalam diri para sahabat. Maka kemudian Allah menurunkan kepada para mujahidin hujan yang deras. Para sahabat dapat minum dan bersuci serta terbabas dari bisikan syaithan. Pada saat itu pula Allah menurunkan 1000 malaikat. Jibril memimpin 500 pasukan dan Mikail 500 pasukan.


“(Ketentuan) yang demikian itu adalah Karena Sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), Maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka.”

Ayat 13 dalam surat Al Anfal memberikan penyejuk dan penguat hati orangorang yang beriman dalam menghadapi penentangan kaum kafir, dan di ayat ini Allah menanamkan agar rasa tsiqoh kepada pertolongan Allah semakin kuat dan menghujam. Setiap pergerakan yang dilakukan oleh orang muslimin merupakan dalam rangka mencari ridho Allah. Kekalahan dan rasa takut yang menimpa orang-orang kafir merupakan bukanlah suatu hal yang final, melainkan akan mereka jumpai kembali nanti di kehidupan yang lebih panjang dan abadi, yaitu azab neraka. Dan begitu juga sebaliknya orang-orang mukmin akan menerima balasan kebaikan atas perjuangan mereka menegakan Dien Allah di yang lebih tinggi nilainya, yakni surga Allah kelak.

Tidak ada komentar: